RSS

Nasehat Dari Salafush Shålih Tentang Bicara

16 Okt

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Jauhilah oleh kalian berlebihan dalam berbicara, cukup bagi seseorang untuk berbicara seperlunya.”
[Jami’ al – ‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali hal 134]
Beliau berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku, berleluasalah di rumahmu dan jagalah lisanmu serta menangislah mengingat dosamu!”
[Az-Zuhd, Imam Ahmad hal. 134]
Beliau juga berkata:
“Demi Allah, Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia! Tidak sesuatu pun di dunia ini yang lebih berhak untuk ditahan dalam waktu yang lama daripada lidah.”
[Az-Zuhd, Imam Ahmad hal. 227]
Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Lebih berlaku adillah terhadap telingamu dari pada lidahmu! Karena tidaklah diciptakan telinga itu dua kecuali agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara.”
[Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi]
Malik bin Anas mencela orang yang banyak bicara dengan mengatakan:
“(Banyak berbicara) hanyalah kebiasaan wanita dan orang lemah.”
[Al-Adab Asy-Syar’iyyah , Ibnu Muflih 1/66]

Perhatikanlah!

Atha’ berkata:

“Kaum salaf membenci sikap berlebihan dalam berbicara. Mereka menganggap selain membaca al-Qur’an, beramar ma’ruf nahi munkar, atau berbicara tentang kehidupan yang harus dibicarakan sebagai sikap berlebihan dalam berbicara.”
[Al-Adab Asy-Syar’iyyah , Ibnu Muflih 1/62]
Al-Qaim bin Muhammad Rahimahullah berkata:
“Aku telah bertemu dengan orang-orang yang tidak suka bicara tetapi mereka suka beramal.”
[Bahjat al Mujalis, Ibnu Abd al-Barr 2/343]
Orang-orang bijak mengatakan:
“Apabila akal seseorang telah sempurna maka akan berkurang bicaranya.”
[Bahjat al Mujalis, Ibnu Abd al-Barr 1/87]
Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang berbicara melampaui batas maka akalnya akan berkurang.
Sufyan ats-Atsauri Rahimahullah berkata:
“Ibadah yang pertama kali adalah diam, kemudian menuntut ilmu, mengamalkan, menghafal dan menyampaikannya.”
[Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat l-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 43]
Hayatilah hal ini, wahai saudaraku penuntut ilmu agar tercapai cita-citamu!
Abu Hatim Muhammad bin Hibban Rahimahullah berkata:
“Yang harus dilakukan bagi orang yang berakal adalah diam sampai ada hal yang harus dibicarakan. Betapa banyak orang yang menyesal ketika berbicara, dan betapa sedikit orang yang menyesal ketika diam. Orang yang paling lama kesedihannya dan orang yang paling besar ujiannya, adalah orang yang diuji dengan lisan yang banyak bicara dan kurang bermanfaat.”
[Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat l-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 43]
(Ada sebuah sya’ir yang indah)
Jika engkau menyukai sikap diam,
Sesungguhnya orang-orang mulia sebelum kamu telah menyukainya.
Jika kamu menyesal satu kali karena diam
Sesungguhnya kamu akan menyesal berulangkali karena berbicara
[Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat al-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 43]
Abu Hatim bin Hibban Rahimahullah berkata:

“Diantara kesalahan paling besar yang dapat merusak kesehatan jiwa dan merusak kebagusan hati, adalah banyak bicara walaupun perkataaan tersebut boleh dibicarakan. Seseorang tidak akan bisa memiliki sifat diam kecuali dengan meninggalkan perkataan yang boleh untuk dibicarakan.”
[Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat al-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 48]
Abu adz-Dziyal berkata Rahimahullah berkata:
“Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara! Jika bicara itu memberikan petunjuk kepadamu sesungguhnya diam itu menjaga dirimu. Dalam diam kamu mendapatkan dua hal, yaitu dengan diam kamu dapat mengambil ilmu dari orang yang lebih tahu dari pada kamu, dan dengan diam kamu dapat menolak kebodohan orang yang lebih bodoh daripada kamu.”
[Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Abd al-Barr 167]
(Ada sebuah sya’ir yang indah)
Orang diam itu tidak tercela
Tidak ada orang yang banyak bicara kecuali akan terpeleset
Dan tidak akan dicela orang yang diam.
Jika berbicara itu adalah perak
Maka diam adalah emas yang dihiasi dengan mutiara.
[Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat al-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 48]
Berkata al-Imam Ibnu Hibbbaan:
“Suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat bahwa ia lebih banyak mempergunakan telinganya dari pada mulutnya, untuk ia ketahui kenapa dijadikan untuknya dua buah telinga satu buah mulut,supaya ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara..
Karena apabila berbicara ia akan menyesalinya, tapi bila ia diam ia tidak akan menyesal, sebab menarik apa yang belum diucapkannya lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah diucapkannya..
Perkataan yang telah diucapkannya akan mengikutinya selalu, sedangkan perkataan yang belum diucapkannya, (maka) ia mampu mengendalikannya..”
[Raudhatul ‘uqalaa’ halaman (47)]
Beliau juga berkata:
Orang yang berakal sehat lidahnya dibelakang hatinya, apabila ia ingin berbicara, ia kembalikan kepada hatinya, jika hal itu baik untuknya baru ia bicara, jikalau tidak maka ia tidak bicara.
(Sedangkan) Orang yang dungu, hatinya dipenghujung lidahnya, apa saja yang lewat diatas lidahnya ia ucapkan, tidaklah paham tentang agama orang yang tidak bisa menjaga lidahnya.
[Raudhatul ‘uqalaa’ halaman (47)]
Seorang laki-laki menulis surat kepada seorang hakim, dia berkata :
“Janganlah kamu pelit untuk berbicara kepada manusia”
Maka dijawab :
“Sesunggunya al-Khaliq Subhanah telah menciptakan bagimu dua telinga dan satu lisan, untuk lebih banyak mendengarkan apa-apa yang banyak dari perkataanmu, bukan untuk lebih banyak berkata dari apa yang kamu dengar.”
Berkata al-Imam Ibnu Rajab:
“Barangsiapa yang menabur kebaikan baik berupa perkataan ataupun perbuatan ia akan menuai kemulian, sebaliknya barangsiapa yang menabur kejelekkan baik berupa perkataan ataupun perbuatan ia akan menuai penyesalan.”
[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/147)]
Kemudian Ibnu Rajab menukil sebuah perkataan dari Yunus bin Ubaid,
“Sesungguhnya ia berkata:
‘Tidak seorangpun yang aku lihat yang lidahnya selalu dalam ingatannya, melainkan hal tersebut berpengaruh baik terhadap seluruh aktivitasnya’.”
Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsrir, bahwa ia berkata:
“Tidak aku temui seorangpun yang ucapannya baik melainkan hal tersebut terbukti dalam segala aktivitasnya, dan tidak seorangpun yang ucapannya jelek melainkan terbukti pula hal tersebut dalam segala aktivitasnya.”
Imam Syafi’I pernah ditanya:
“Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaan?”
Beliau menjawab:
“Agar aku dapat memahami mana yang lebih utama, diam atau menjawab pertanyaan”
Ibrahim bin adhim melewati seorang laki-laki yang sedang berbicara yang tak ada gunanya, maka belaiu berhenti dan bertanya :
“Apakah kamu mengira akan mendapatkan pahala dengan ucapanmu itu?”
Maka orang ini menjawab :
“Tidak”
Maka beliau bertanya lagi :
“Apakah kamu akan merasa aman dari siksaan akibat ucapanmu tadi?”
Dia menjawab:
“Tidak”
Maka beliau menimpali:
Maka kenapa kamu berkata dan berbicara yang tidak mendapat pahala dan dan belum tentu selamat dari dosa!? Maka hendaklah kamu berdzikir kepada Allah!
Dari Thahir az-Zuhriy dia berkata :
“Ada seorang laki-laki duduk di samping abu yusuf, dan orang ini diam terus.
Maka bertanya abu yusuf kepadnya:
“Kenapa engkau tidak berbicara?”
Orang ini menjawab :
“Tentu aku akan bicara… kapan waktunya berbuka puasa?”
Maka abu yusuf menjawab :
“Jika tengelam matahari”
Laki-laki ini bertanya :
“(bagaimana) jika sampai pertengahan malam tidak tenggelam (juga)?
Maka tertawalah abu yusuf sambil berkata:
“Kamu benar dalam diammu, dan aku salah telah menyuruh kamu berbicara.”

 
 

BERIKAN SARAN DAN KRITIKNYA YA

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: