RSS

Desa Adat Karang Bayan Lingsar Lombok Barat

09 Okt


Budaya Hindu di Desa “Muslim” Karang Bayan.
Menelusuri Budaya Hindu di Desa Karang Bayan Karang Bayan merupakan sebuah desa yang berada di Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Desa ini merupakan salah satu desa yang sangat kaya akan hasil alam. Baik pertanian maupun perkebunannya. Kehidupan sosial yang masih sangat kental dengan gotong royongnya membuat suasana masyarakat yang penuh dengan kekeluargaan tergambarkan ketika di dalam satu keluarga sedang mempesiapkan acara sakral di desa tersebut.

Desa Karang Bayan tidak sepopuler desa wisata lainnya memang. Namun ia menawarkan keindahan alam dan kehidupan tradisional untuk dilihat.

Desa dibawah perbukitan ini terletak di Kecamatan Lingsar yang dapat dicapai dalam 10 menit dengan mobil dari Cakranegara. Daerah yang subur ini sumber dari mata air Kayangan dan Pancor Ancak. Mereka adalah sumber air bagi warga desa. Untuk mencapai kedua mata air, anda harus berjalan sekitar 30 menit dari pemukiman desa. Sepanjang jalan, Anda bisa merasakan suasana segar hutan tropis. Anda bisa mendengar berbagai burung bersenandung dan gemericik air sungai, Anda bisa melihat beberapa buah-buahan tropis menggantung pada batang dan terkagum2 dengan penduduk desa yg ramah berjalan sambil membawa kering kayu atau hasil panen di kepala dan bahu mereka.

Selain melakukan soft trekking di sekitar bukit, Anda juga dapat mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di tempat ini.

Secara historis, Karang Bayan merupakan salah satu daerah yang dijajah oleh Karang Asem Raya. Hal ini juga dikenal sebagai salah satu daerah percaya Islam Waktu Telu. Menurut sesepuh di desa ini, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Bayan, salah satu kecamatan di bagian utara Lombok yang merupakan pusat kepercayaan Islam Waktu Telu. Asumsi ini diperkuat dengan dialek Sasak yang sama digunakan dalam Karang Bayan dan Bayan, dengan kemiripan nama desa ini dan kemiripan bentuk bangunan bersejarah yang masih berdiri di tengah-tengah desa.

Ada 4 bangunan tradisional tetap yaitu Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat digunakan sebagai tempat berkumpul di mana penduduk desa diskusi kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa. Bale Adat hanya terdiri dari satu ruangan dan teras. Di depan rumah ini, ada Sekenem. Sekenem adalah ruang tamu. Dalam sekenem, ada berugaq mana tamu bisa beristirahat.

Di balik Bale Adat berdiri Bangaran. Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika pertama kali nenek moyang Karang Bayan dibangun desa ini. Bangaran berasal dari kata “Bangar”. Ini berarti untuk melakukan deforestasi. Hanya beberapa langkah ke selatan dari Bale Adat, masjid sepi masih berdiri dan dilingkari oleh pagar bambu tersebut. Arsitektur ini paling mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada sisa bangunan. Itu adalah dapur yang digunakan sebagai tempat persiapan sebelum memasuki masjid.

Islam Waktu Telu sangat dipengaruhi oleh budaya Bali. Hal ini secara eksplisit digambarkan dalam beberapa tradisi yang dilakukan oleh orang-orang di Karang Bayan yaitu Kikiran. Kikiran adalah metatah di Bali-tradisi yang bertujuan untuk tubuh manusia murni dengan flatting gigi mereka. Selain itu, hubungan harmonis antara Bali dan Sasak Islam Waktu Telu dapat dilihat dalam tradisi yang disebut Pijian. Pijian adalah tanda terima kasih yang diberikan kepada Hindust dari Sasak Karang Bayan untuk menghadiri acara tertentu. Pijian terdiri dari sawah, bumbu dan kelapa. Umumnya, itu diberikan ketika Sasak Karang Bayan mengirim undangan mereka.

Karang bayan merupakan desa yang dimana merupakan salah satu desa yang memiliki akulturasi budaya hindu yang masih kuat di Lombok, karena pada jaman dulu raja Karang Asem bali pernah menguasai desa tersebut, dimana masyarakatnya merupakan menganut agama islam dan beberapa dari mereka masih menganut watu telu . Karang bayan sendiri merupakan desa yang kepercayaannya merupakan ajaran dari tokoh agama islam yang ada di Bayan, KLU.
Tak ayal dari segi bahasa dan arsitektur masjid kuno peninggalannya, hampir memiliki persamaan dengan Masjid Kuno Bayan di KLU. Terlepas dari itu,desa Karang Bayan sendiri memiliki adat yang tak terlepas dari budaya hindu pada umumnya. Diantara adat hindu tersebut adalah Pijian dan Kikiran.

1. Pijian
Pijian merupakan adat dari masyarakat di desa Karang Bayan memberikan hadiah dari keluarga (muslim)kepada keluarga (hindu) di Karang Bayan, ini merupakan salah satu cara untuk mengundang keluarga (hindu) untuk datang ke acara yang salah satu keluarga (muslim) akan adakan di desa tersebut. Biasanya Pijian ini di antar pada saat 2 hari sebelum acara tersebut dimulai. Acara seperti nyongkolan (prosesi pernikahan) merupakan moment yang dimana pijian ini di persembahkan. Sedangkan pijian ini sendiri berisi 2 buah kelapa, 2 buah telur, minyak dan rempah-rempah.

2. Kikiran
Kikiran merupakan salah satu prosesi adat meratakan gigi dengan mengunakan alat tertentu. Biasanya prosesi adat ini disebut ngosokan dalam adat karang bayan. Ngosokan ini sendiri biasanya merupakan acara yang di rangkai pada cara rowah atau gawe beleq di desa Karang bayan tersebut.

Jadi akulturasi budaya dan adat hindu masih sangat kental di Lombok dan ini membuktikan bahwa toleransi beragama sangat kuat sekali. Bahkan saling memberikan apresiasi sendiri terhadap acara adat yang di lakukan.

 
 

BERIKAN SARAN DAN KRITIKNYA YA

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: