RSS

ILMU DAN GURU, GURU DAN ILMU

26 Nov

“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahat” Sebuah pepatah yang sudah tidak asing lagi bagi kita, pepatah ini bukan saja mengajak tapi juga sebuah ketentuan tentang limu, bagaimana tidak semenjak alam ini ada ilmu selalu berdampingan dengan perkkembangannya sampai hari akhir itu tiba, pepatah itu menggambarkan seolah ilmu terlahir berdampingan dengan kelahirannya dan akan berakhir sama dengan ketiadaannya. Ilmu dan guru sangat berkaitan erat, bagaimana tidak “Tanpa guru ilmu tidak akan ada, sebaliknya tanpa ilmu guru juga tidak akan ada” begitulah kenyataannya bahwa ilmu itu sudah ada sebelum alam ini ada, mungkin ada yang menyangga, mana mungkin ilmu duluan dari pada alam?
Secara logika tanpa ilmu bagaimana menciptakan alam yang luas ini kalau bukan dengan ilmu, nah berarti ilmu itu telah ada sebelum alam ada, lalu siapa guru dari ilmu yang sudah ada itu? Jawabannya sudah pasti ialah sang pencipta yaitu sumber dari semua ilmu. Sekarang kita mendapat kesimpulan bahwa guru dari segala ilmu adalah sang Maha Pencipta yaitu ALLAH SWT.
“Alam takambang manjadi guru” ini adalah sebuah pepatah orang Mingang Kabau yang berarti alam yang luas menjadi guru,  pepatah ini juga sekaligus sebuah rujukan, buktinya para penemu ilmu itu selalu berdasarkan penelitian alam yang sudah ada ini.
Bagaimana menyikapi ilmu? Mari kita simak sebuah cerita dibawah ini.
Seseorang guru bertanya pada seorang murid.
Guru        ; Apakah kamu tau apa yang keluar dari dubur ayam?
Murid       ; Ma’af!!! Taik (kotoran) dan telur
Guru        ; Hehehe betul sekali, tapi kalau kamu disuruh pilih kamu akan pilih yang mana di antara yang dua itu?
Murid       ; Tentu saja Telurnya guru!
Guru        ; Lalu bagaiman dengan kotorannya?
Murid       ; Yah alangkah baiknya dibuang! Bukankah begitu guru?
Guru        ; Setelah kamu pilih telurnya apa yang akan kamu lakukan dengan telur tersebut?
Murid       ; Memakannya, atau menjadikannya bibit tetasan seekor ayam!
Guru        ; Memang memakan telur mentah itu baik, tapi alangkah baiknya dibuang cangkangnya terlebih dahulu, dan supaya enak dimasak juga lebih baik, dibikin adonan telurpun akan lebih bermutu. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya membuang kotorannya?, bukankah kotoran ayam sangat baik untuk pupuk, bahkan yang terbaik dari pupuk kompos.
Murid       : Lalu bagaimana dengan ayamnya, apa yang harus aku perbuat guru?
Guru        : Peliharalah ayam itu supaya dia bisa menghasilkan telur yang terbaik!
Murid       : kenapa guru mempertanyakan tentang ayam dan yang di keluarkannya kepadaku?
Guru        : Karena selama kamu menuntut ilmu dengan saya kamu akan berhadapan dengan seekor ayam dan kamu akan menerima ilmu itu melalui duburnya.! Satu lagi yang perlu kamu ingat jangan memandang tempat keluarnya tapi lihatlatlah apa yang dikeluarkannya.
Dari cerita diatas sebetulnya mengajarkan bagaimana kita menyikapi  menuntut ilmu, dari guru kita akan mendapatkan dua jenis ilmu pertama ialah yang baik atau yang digambarkan oleh cerita tersebut sebagai telur, yang kedua buruk atau yang digambarkan dalam cirita tersebut di atas taik (kotoran). Dalam cerita diatas juga kita dapati bagaimana guru mengajarkan cara memanfaaatkan telur dan mengambil kotoranya sebagai pupuk.
Begitulah cara menyikapi ilmu yang kita dapat dari guru baik seorang yang di anggap guru ataupun alam sebagai guru, ilmu yang kita dapat yang baik menurut kita sebaiknya jangan langsung di terima seperti kiasan cerita diatas yang mengajarkan bahwa “sebaiknya membuang cangkangnya terlebih dahulu”, setiap yang kita anggap baik itu belum tetntu baik menurut yang lain dan sebaliknya yang baik menurut orang lain itu belum tentu baik buat kita, makanya kita harus punya filterisasi untuk menerapkan ilmu yang kita dapat supaya sesuai dengan kebutuhan dan bermanfaat dengan baik, begitu juga kita jangan hanya terfokus pada satu bidang ilmu karena keragaman ilmu akan memebawa sesuatu yang lebih, seperti kiasan cerita di atas “Memang memakan telur mentah itu baik, tapi alangkah baiknya dibuang cangkangnya terlebih dahulu, dan supaya enak dimasak juga lebih baik, dibikin adonan telurpun akan lebih bermutu”
Kenapa kita harus buang kotorannya, bukankah kotoran itu bisa dijadikan pupuk, kiasan yang ada dicerita diatas mengajarkan kita untuk mengambil contoh yang buruk untuk dijadikan pengalaman atau pemicu semangat. Bukankah ayat Al-Qur’an juga banyak mencontohkan kisah kaum yang durhaka sebagai peringatan bagi kita. Begitu juga kita menyikapi guru seandainya kita mendapatkan keburukan pada guru jadikanlah itu sebagai peringatan buat kita, dan bertekatlah kita akan berusaha lebih baik dari guru tersebut.
Tulisan ini juga ringkasan dari buku yang sedang saya susun untuk diterbitkan. Saya mohon do’a dari pembaca semoga saya berhasil dan buku saya diterima di publik, terimakasih. Wassalam : Dedi Dukun.
 
 

BERIKAN SARAN DAN KRITIKNYA YA

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: