RSS

EMPDEMIOLOGI (ISLAM DALAM UPAYA PREVENTIF PENYAKIT MENULAR)

26 Nov

Ajaran islam berbeda dengan ajaran agama lain dalam mengantisipasi penyakit. Sebagian ajaran agama terdahulu mengobati berbagai penyakit masih terlalu kuat berpegang pada azimat, pangkalan atau dengan doa-doa dari para tokoh agama untuk mengusir roh jahat, memerangi dengan lilin atau meminyaki tubuh pasien atau dengan cara lain yang oleh sains modem dianggap tidak relevan lagi.

Akibatnya, orang yang berpegangan pada cara seperti itu, tidak mau mengakui kehadiran ilmu kedokteran dan pengobatan secara medis. Mereka hanya dapar menerima bahwa penyakit itu dapat disembuhkan oleh doa-doa saja. Tak satu pun dari agama-agama ini yang berinisiatif untuk mencegah penyakit dengan menjaga kebersihan, karantina atau menjauhkan diri dari wabah penyakit menular.
Tentang pencegahan penyakit, pada umumnya (dalam ajaran Islam) terdapat kitab-kitab yang mengkaji “Etika Menjenguk Orang Sakit”. Ajaran-jaran itu antara lain :
  1. Tidak marah, bimbang atau takut terhadap penyakit yang sedang menimpa dirinya, tetapi harus tetap bersabar dan ridlo qhado dan qadar Allah. Falsafah yang diajarkan Islam dalam menghadapi penyakit. Dengan demikian seseorang yang ditimpa musibah sakit akan menerima realitas ini dengan senang hatim, sabar, dan sikap yang demiakan akan membantu dalam proses terapi. Bahakan seseorang muslim akan menganggapnya sebagai cobaan Allah terhadap cita-cita seseorang, atau sebagai zakat dari kesehatannya, atau sebagai pengampunan terhadap kesalahan-kesalahannya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:    “tak seorang muslimpun yang sedang ditimpa musibah sakit atau yang lainnya, melainkan Allah menghapuskan keburukan-keburukan (amal) baginya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya”.  Rasululllah saw melarang mengeluh   atau jengupat terhadap suatu penyakit yang sedang menimpa sekalipun dalam keadaan marah. Mengupat bukan akhlak seorang muslim, apalagi ia tiadak akan mampu untuk menyembuhkannya. Dalam hal ini rasulullah bersabda:“janganlah kamu mencaci-maki suatu penyakit, sesungguhnya ia menghilangkan kesalahan-kesalahan bani adam sebagaimana tukang besi menghilangkan karatnya”.
  2. Untuk mendiagnosis suatu penyakit dan memberikan dosis obatnya, islam memerintahkan agar berobat kepada dokter spesialis. Dalam kitab “Sirah Nabi” (Perjalanan Hidup Nabi) diterangkan bahwa Rasulullah saw, menjenguk orang sakit, setelah diperhatikan, lalu beliu menyarankan kepada keluarganya agar mengantarkannya kepada dokter. Maka mereka pun heran dibuatnya, lalu mereka berkata : engkau memerintahkan demiakian wahai Rasulullah?”. Jawab beliau : “Benar. Cailah obat pada hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali juga  menurunkan obatnnya”. Rasulullah saw bersabda:“setiap penyakit pasti ada obatnya, maka apabila ditemukan obatnya, sembuhlah ia dengan izinnya”. Rasulullah saw bersabda : “SesungguhnYa Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan telah ada obatnya kecuali satu. Mereka bertanya: “Apukah itu?”. Jawab Nab[: “penyakit tita”.
  3. Islam juga memperhatikan aspek psikologis dalam menyem buhkan orang yang sakit dan tidak memerintahkan untuk meninggalkan doa, baik doa itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibawa untuknya, atau dengan shalat, atau dengan harapan -harapan yang baik, akan tetapi Islam berbeda dengan agama yang lain, bahwa Islam tidak memperbolehkan pengobatan hanya semata-mata dengan doa. Keduanya harus dilakukan, menurut proporsinya masing-masing. Di antara doa-doa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya yang sedang menderita sakit antara lain: “Ya Allah, sembuhkanlah penyakit yang menimpan.va, dan berilah pahala terhadap hal yang Engkau telah mencobanya”.
  4. Untuk menjaga kesehatan dari penyakit menular, Islam mengajarkan agar mengarantinakan orang yang menderita penyakit menular dari pergaulan umum, dalam rumah atau rumah sakit, sehingga penyakit itu tidak meluas kepada orang lain. Apabila ia seorang pekerja pabrik, atau siswa suatu sekolah, atau mungkin ia penumpang kendaraan umum, agar dapat menjaga kesehatan umum, hendaknya ia menjauhkan diri dari pergaulan mereka, atau tidak berkumpul dengan mereka sehingga Allah menyembuhkannya, atau hingga penyakititu tidak menjadi bencana terhadap orang lain. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Janganlah orang yang terkena suatu penyakit menularkan kepada orang sehat”. Artinya seseorang yang menderita suatu penyakit hendaknya tidak memasuki lingkungan orang-orang yang sehat, sehingga tidak menularkan penyakit itu kepada orang
  5. Bersamaan dengan upaya mengarantinakan orang yang sakit, Islam juga menyarankan kepada orang yang sehat agar tidak memasuki daerah atau menjatuhkan dirinya sampai daerah itu bebas dari kemungkinan terjangkitnya penyakit menular. Rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya sedikit dari persentuhan saja akan menghancurkan (menularkan)”. (Ditakhrij oleh Abu Daud)
  6. Prinsip yang ditanamkan oleh Islam adalah melindungi orang yang sehat dengan mengasingkan orang yang sakit yang tidakdapat diharapkan kesembuhannya, dan mereka diberikan keringanan untuk tidak bergaul dengannya. Telah datang seorang utusan Badui kepada Rasulullah agar berbai’at kepadanya, sedang di antara mereka itu ada yang menderita penyakit sopak (sejenis penyakit menular). Maka Rasulullah saw. melarang penderita itu ikut bersama sama di majelisnya, atau membai’atnya dengan tangan. Kemudian beliau mengirim seseorang kepadanya: “Sampaikanlah kepadanya, bahwa saya telah membai’atnya, maka pulanglah”. Hal ini menunjukkan suatu tauladan etika yang begitu tinggi nilainya, bahwa secara rasional terpaksa harus mengalahkankasill sayang, dan dialog imiah terpaksa harus mengalahkankasih sayang. Rasulullah saw. bersabda: “Buatlah jarak antara kamu dengan orang yang terkena sopak jarak kira-kira satu atau dua anak panah “.
  7. Islam meletakkan suatu kaidah kessehatan yang sangat penting untuk mengantisipasi penyakit menular, seperti kolera, tha’un dan sopak. Kaidah ini bersumber dari sabda Rasulullah saw.: “Apabila kanni mendengar tetjadinya suatu -wabah (pen * yakit) pada suatu daerah, maka janganlah kamu memasitkitz.va, dan apabila disuatu daerah beijangkit itu, sedangkan kamu herada di dalanin.va, maka janganlah lari mettiliggalkannya”. Kaidah-kaidah ini tidak berbeda dengan nilai-nilai wins modern dewasa ini. Apabila kita mengetahui perkembangan kcssehatan, maka kita akan mengetahui bahwa jika terjadi wabah kolera, atau sopak di suatu kota, maka buatlah peng aman di sekitamya. Kemudian dengan alasan apapun, tak seorang pun diizinkan memasukinya. kecuali para petugas kessehatan, atau orang yang mempunyai kepentingan di dalamnya, itu pun mesti berada di bawah pengawasan DepartemenKesehatan. Bahkan kendaraan yang mengangkut kertas sekalipun. Suatu ketika Umar bin Khattab hendak mengunjungi Syani bersama para sahabat. Maka Abu Ubaidah, Gubernur Syam pada waktu itu, keluar untuk menjemputnya di jalan dan menyampaikan kepadanya bahwa di negeri ini sedang berjangkit wabah penyakit tha’un. Maka Umar pun bermusyawarah dengan para sahabat yang mengikutinya. Di antara mereka ada yang mengusulkan agar tetap ke Syam dan tidak membatalkan atau tidak lari dari qadar Allah. Sebagian yang lain mengusulkall agar kembali dan tidak menghadapkan kaum muslimin dan para sahabat itu ke dalam lingkungan yang terjangkit wabah tha’un itu. Mereka berpendapat bahwa lari dari qadar Allah kepada qadar Allah. Akhirnya, datang seorang saliabatmenyampaikan sebuah hadist yang didengarnya dari Rasulullah, maka menjadi jelaslah permasalahan yang mereka hadapi. Mereka kembali ke Madinah, sedangkan penduduk Syamdiperintahkan agar tidak, meninggalkan daerahnya sehingga wabah itu benar-benar hilang.
  8. Dengan pandangm seperti ini, maka Islam mendorong pengadaan Makanan umum yang sehat sebagai usaha menghindari penyakit. Hal demikian tidak berarti menghindari qadar Allah. Sekelompok, sahabat telah datang dan bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, apakah obat-obatan yang senantiasa kami gunakan dan perawatan yang selalu kami lakukan bukan ketentuan dari Allah? Jawab beilau: “Bahkan semua itu dari ketentuan Allah”.
  9. Islam menganjurkan  agar mencuci tangan sebelum masuk dan sesudah keluar dari menjenguk orang sakit, dengan berwudlu yang baik dan sempuma, yakni membasuh muka, hidung, tenggorokan, kaki dan kedua belah tangannya. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa berwudlu dan membaguskan vvudlunya kemudian menjenguk saudaranya yang sakit, ia akan dijauhkan dari neraka”. Hal ini disebabkan karna boleh jadi orang yang ssehat itu justrumembawa bakteri pada tangan atau pada tenggorokannya. Sedangkan penderita baru saja sembuh daripenyakit, sehingga masih berasa pada kondisi badan yang sangat lemah, sehingga masuknya seseorang yang membawa bakteri sangat memungkinkan akan menimbulkan penyakit baru. Adapun setelah keluar dari menjenguk orang sakit, agar seseorang yang keluar darinya itu dapat steril dari kemungkinan membawa bakteri dari penderita dan menularkan kepada dirinya atau kepada orang lain.
  10. Kebanyakan penyakit menular seperti dipteri, cacar, bengek dan terutama penyakit-penyakit demam seperti influenza dan salesma yang berpindah melalui debu yang beterbangan di udara, atau melalui bersin. Dalam hal ini Rasulullahsaw. Telahmengajarkan etika yang sangat terpuji bagi kaum muslimin. Apabila bersin, beliau selalu menutup hidung dan muluitnya dengan kedua telapak tangannya atau ujung bajunya, dan para sahabat juga melakukan yang demikian. Rasulullah bersabda: “Sambutlah saudaramu apabila bersin sampai tiga kali, sedang yang lebih dari itu adalah salesma”. Dari sini dapat kita pahami, bahwa apabila bersin itu lebih dari yang dapat diterima akal, maka ia adalah penyakit (salesma) maka wajib menjaga diri daripadanya. Dalam pabrik -pabrik modern seperti sekarang ini, mendorong kepada parapegawainya agar jika tertimpa salesma menggenakan penutup muka dari kain dan dipakai ke mana saja pergi sehingga tidak menjadi wabah di lingkungannya.
  11. Masih banyak bakteri-bakteri penyakit menular yang sangat mungkin sampai kepada seseorang melalui debu-debu yang beterbangan di udara. Misalnya, jika seseorang penderita meludah di atas tanah, maka bakteri yang ada dalam ludah itu akan mampu hidup dalam waktu yang lama, kemudian dibawa oleh angin bersama dengan debu-debu yang terbawa angin, maka sampailah kepada orang yang sehat, ketika ia menghirup udara itu. Rasulullah bersabda: “Jauhilah olehmu debu, sesungguhnya di dalamnya mengandungracun”.
 
 

BERIKAN SARAN DAN KRITIKNYA YA

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: